" "

forexchief

Minyak Sulit Keluar Dari Tekanan Jual

Discussion in 'Diskusi Forex' started by ForexSignal88, Jan 26, 2017.

Share This Page

  1. ForexSignal88

    ForexSignal88 Member

    Messages:
    273
    Likes Received:
    2
    Trophy Points:
    18
    ForexSignal88.com l Jakarta 26/01/2017. Harga minyak di perdagangan kemarin masih sulit untuk keluar dari tekanannya jualnya karena stok minyak AS masih tercatat makin banyak.

    Harga minyak jenis West Texas Intermediate kontrak Maret di bursa New York Mercantile Exchange divisi Comex untuk perdagangan kemarin ditutup turun 43 sen atau 0,81% di level $ 52,75 per barel. Sedangkan minyak jenis Brent kontrak Maret dipasar ICE Futures London ditutup turun 7 sen atau 0,31% di harga $ 55,37 per barel.

    Pelemahan minyak semalam dipicu oleh persediaan atau stok minyak pemerintah AS yang melonjak lagi dibanding periode sebelumnya. Energy Information Administration atau Badan Informasi Energi AS menyatakan bahwa stok minyak AS minggu lalu mencapai 2,84 juta barel, lebih tinggi dari minggu sebelumnya 2,3 juta barel.

    [​IMG]

    Angka 2,84 juta barel dari EIA ini sedikit dibawah perkiraan pasar 2,85 juta barel, dan sedikit dibawah perkiraan API sebesar 2,9 juta barel. Untuk stok bahan bakar naik 6,8 juta barel dan minyak suling turun 4 juta barel, demikian ungkap EIA semalam.

    Sulitnya harga minyak untuk bangkit semalam juga karena Donald Trump telah menyepakati dan memutuskan untuk segera membangun kembali jalur pipa Keystone XL dan Dakota Access yang kontroversial, sebagai bagian pemenuhan janji Trump untuk membangun infrastruktur di AS.

    Jalur pipa minyak tersebut telah dihentikan oleh Obama, karena mendatangkan protes dari penduduk yang dilalui proyek pipa minyak dan gas dari selatan AS hingga Kanada. Masyarakat Indian dan veteran perang sangat menentang pipa tersebut karena menganggu kelestarian budaya.

    Namun di sisi lain, pembangunan kembali jalur pipa minyak tersebut akan memudahkan distribusi minyak dari lepas pantai Teluk Mexico ke segala penjuru AS dan Kanada, serta akan meringankan biaya distribusi dan menghemat anggaran belanja negara dan masyarakat AS.

    Tentu pula akan meningkatkan shale produksi minyak AS seiring dengan mudahnya dan murahnya jalur distribusi minyak di AS. Hal ini bertentangan dengan pemangkasan produksi minyak yang dilakukan OPEC dan 11 negara produsen minyak non-OPEC.

    Diluar konteks politik, memang kebijakan Trump tersebut dapat membuat harga minyak jadi tidak kondusif alias sulit untuk naik. Padahal OPEC dan 11 negara non-OPEC telah berhasil memangkas produksi minyaknya hingga 1,5 juta barel dari target 1,8 juta barel.

    Komitmen perjanjian tersebut sudah mulai diikuti negara-negara yang sebelumnya keberatan, seperti Iraq dan Venezuela, sudah menyatakan untuk menjalankan komitmen pemangkasan minyak. Bahkan sekjen OPEC, Mohammed Barkindo optimis dengan harga minyak yang akan hinggap hingga $ 70 barel di akhir tahun ini.

    Sebuah lembaga pemerhati minyak, Bernstein Energy menyatakan bahwa persediaan minyak dunia mengalami penurunan sebanyak 24 juta barel di kuartal 4 2016 lalu sehingga menjadi total 5,7 milyar barel, atau sama dengan sekitar 60 hari konsumsi minyak dunia. Penurunan ini juga merupakan pendorong harga minyak.

    Semoga harapan pemangkasan produksi minyak OPEC dapat membuat harga minyak kembali pulih dan produksi minyak AS kembali turun.

    Sumber: bloomberg, reuters, marketwatch
    " "

Share This Page