fbs

forexchief

Apa Dampak “America First” bagi Emas dan Dolar?

Discussion in 'Diskusi Forex' started by ForexSignal88, Feb 10, 2017.

Share This Page

  1. ForexSignal88

    ForexSignal88 Member

    Messages:
    273
    Likes Received:
    2
    Trophy Points:
    18
    ForexSignal88.com l Jakarta, 10/02/2017 – Salah satu pilar utama dari kampanye Donald Trump adalah sebuah pendekatan yang ia sebut sebagai “America First”. Pilar tersebut menjadi dasar bagi pembentukan kebijakan ekonomi dan perdagangan administrasi Trump setelah ia resmi menjabat sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat.

    Sejauh ini, pendekatan tersebut telah menjadi “syarat utama” bagi pembahasan atau pembicaraan di sekitar negosiasi kesepakatan perdagangan yang diharapkan lebih menguntungkan bagi AS. Penarikan diri AS dari Trans-Pacific Partnership, pengungkapan potensi manipulator mata uang, dan pembangunan tembok di sepanjang perbatasan Meksiko, adalah contoh-contoh bentuk pengejawantahan pilar tersebut.

    Tentunya diperlukan waktu yang cukup lama untuk sepenuhnya merealisasikan “America First”, bahkan mungkin butuh bertahun-tahun hingga agenda dan slogan Trump terwujud.
    [​IMG]
    Untuk saat ini, hasil utama pendekatan Trump tersebut bagi para investor adalah arah pergerakan dolar AS. Hingga detik ini greenback masih menjadi mata uang cadangan dunia (reserve currency). Ada begitu banyak transaksi perdagangan yang diselesaikan dalam mata uang ini setiap harinya dan sebagian besar pada perdagangan komoditas.

    Sebelum Trump menjabat, banyak investor dan analis terkemuka yang memperkirakan kelanjutan dari apresiasi terhadap dolar AS berdasarkan kebijakan moneter yang ketat dan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Namun, dalam beberapa pekan terakhir dolar cenderung melemah di tengah realisasi kebijakan “America First” yang digaungkan oleh Trump, yang mungkin benar-benar tidak positif bagi dolar.

    Jika ditelisik ke belakang, dalam catatan sejarah hal serupa pernah terjadi yaitu pada tahun 2002 ketika George W. Bush yang mengenakan tarif perdagangan agresif (hingga 30% pada baja impor) dalam upayanya untuk menyelamatkan industri baja AS yang sedang menurun.

    Di satu sisi langkah Bush Junior tersebut memang membantu mengkonsolidasikan industri terkait dalam bentuk restrukturisasi senilai lebih dari $3 miliar, namun ternyata di sisi lain kebijakan tersebut juga berdampak negatif bagi konsumen domestik yang menggunakan baja asing, salah satunya adalah produsen mobil AS.

    Satu hal yang tidak bisa diperdebatkan adalah efek kebijakan tersebut pada dolar AS. Setelah memuncak pada awal tahun 2002, dolar turun 11% segera setelah pengumuman tarif agresif tersebut. Kemudian tarif itu dihapus pada bulan Desember 2003 setelah World Trade Organization menganggapnya ilegal dan mengatakan negara-negara seperti Jepang dan lainnya yang tergabung di Uni Eropa bisa membalas dengan menerapkan kebijakan serupa.

    Juga bukanlah kebetulan saat emas melakukan rally sebesar 30% selama rentang waktu tersebut. Secara alami, dan kadang-kadang merugikan mereka, para investor lebih menekankan pada apa yang terjadi baru-baru ini, bukannya mengambil pandangan yang lebih luas jauh ke depan.

    Selanjutnya dolar AS terus menunjukkan kekuatannya terhadap sebagian besar mata uang sejak 2011. Ini juga terjadi kira-kira bersamaan dengan penurunan emas dari $1.900 hingga menyentuh $1.050 per troy ounce di Desember 2015.

    Apakah aksi yang diambil oleh pemerintah Trump untuk memacu manufaktur domestik, peningkatan lapangan pekerjaan dan peningkatan keluaran ekonomi menjadi sebuah aksi pendahuluan (precursor) untuk mencapai tujuan dia agar dolar lebih lemah dan menciptakan trend naik harga emas?

    Tentunya pertanyaan tersebut tidak akan terjawab dalam waktu satu atau dua hari namun yang para investor akan dan harus tetap mencermati pengembangan skenario Trump ini dan menyesuaikan portofolio investasi mereka.

    Sumber berita: ForexSignal88, NewsMaxFinance

Share This Page